Selasa, 09 Maret 2021

HIDUP SEDERHANA Q.S. ALISRAA AYAT 30

 

HIDUP SEDERHANA

AL-QUR’AN SURAT AL-ISRAA ; 30

 

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرًۢا بَصِيرًا

Kosa kata

Mufrodat

Arti

 

Mufrodat

Arti

إِنَّ

Sesungguhnya

 

وَيَقْدِر

Dan Menyempitkan

رَبَّكَ

Tuhanmu

 

إِنَّهُۥ

Sungguh Allah

يَبْسُطُ

Meluaskan

 

كَانَ

Dia Allah

ٱلرِّزْقَ

Rizki

 

بِعِبَادِهِۦ

Terhapa Para hamba

لِمَن

Untuk Siapa saja

 

خَبِيرًۢا

Maha Mengetahui

يَشَآءُ

Dia Kehendaki

 

بَصِيرًا

Maha Melihat

 

Terjemah Arti:

Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

 

Tafsir Quran Surat Al-Isra Ayat 30

Sesungguhnya tuhanmu melapangkan rizki bagi sebagian manusia dan menyempitkannya bagi sebagian yang lain, sejalan dengan ilmu dan hikmah Allah .Sesungguhnya Dia maha mengetahui rahasia-rahasia para hambaNya, tidak ada yang tersembunyi dari ilmuNya sesuatu yang kecil pun dari kondisi-kondisi mereka.

 

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 30.

Sungguh, Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki, dan menyempitkannya bagi siapa saja yang Dia kehendaki untuk suatu hikmah yang besar. Sungguh Dia Maha Mengetahui lagi Melihat hamba-hamba-Nya, tidak ada satu urusan mereka yang tersembunyi dari-Nya, sehingga Dia bisa menentukan apa saja terhadap urusan mereka sekehendak-Nya.

 

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

 30. إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ (Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya) Yakni melapangkan rezeki kepada sebagian orang dan menyempitkan rezeki sebagian yang lain sesuai dengan hikmah Allah yang dalam. خَبِيرًۢا بَصِيرًا (Maha Mengetahui lagi Maha Melihat) Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya.

 

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah 30.

Sesungguhnya Tuhanmu meluaskan rejeki orang yang dikehendakiNya dan menyempitkan orang yang dikehendakiNya sesuai kebijaksanaanNya yang ditujukan untuk kebaikan para hamba. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui setiap sesuatu, sehingga Dia memberi rejeki hamba-hambaNya sesuai kemaslahatan mereka

 

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

30.Kemudian Allah memberitahukan bahwasanya Allah “melapangkan rizki kepada siapa yang Dia kehendaki,” dari hamba-hambaNya, menakdirkan dan menyempitkannya atas siapa yang dikehendakiNya sebagai bentuk hikmah dariNya. “Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hambaNya,” maka Allah membalas mereka dengan balasan yang baik bagi mereka menuruut pandanganNya, serta mengatur mereka dengan kelembutan dan kemuliaanNYa.

 

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Makna kata: (يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ) yabsuthur rizqa limay yasyaa`u wa yaqdir : meluaskan, dan menyempitkan rezeki sebagai ujian. Makna ayat: Firman-Nya ta’ala “Sesungguhnya Rabbmu yang melapangkan rezeki kepada yang Dia kehendaki...” melapangkannya kepada yang Dia kehendaki sebagai ujian, apakah ia bersyukur atau mengingkari, dan menyempitkan rezeki bagi yang Dia kehendaki sebagai cobaan, apakah ia bersabar atau malah murka. “Sesungguhnya Dia kepada hamba-hamba-Nya, Maha Teliti Maha Melihat.” Oleh karena itu Dia melapangkan dan menyempitkan rezeki sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya, karena ada sebagian dari hamba-Nya yang tidak tahan kecuali dengan kelapangan, dan ada yang tidak tahan kecuali dengan kesempitan. Pelajaran dari ayat: • Jelasnya hikmah Allah ta’ala dalam meluaskan dan menyempitkan rezeki hamba-Nya.

 

Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi

Dia mengetahui batin dan zahir mereka, oleh karenanya Dia akan membalas mereka dengan sesuatu yang cocok bagi mereka dan mengatur mereka dengan kelembutan dan kemurahan-Nya.

 

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Sebab utama sifat kikir manusia adalah karena takut terjerumus ke dalam kemiskinan. Ayat ini mengingatkan bahwa sungguh, tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang dia kehendaki untuk dilapangkan rezekinya dan menyempitkannya kepada siapa yang dia kehendaki untuk disempitkan rezekinya; sesungguhnya dia maha mengetahui segala sesuatu, maha melihat akan hamba-hambanya. Dia memberikan kepada hamba-Nya segala sesuatu yang menjadi kebutuhan dan kemaslahatannya apabila ia menjalani sebab-sebab untuk mendapatkannya. Kemudian Allah melarang kaum muslim membunuh anak-anak mereka seperti yang dilakukan beberapa suku dari kaum arab jahiliyah. Allah berfirman, dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan akan menimpa mereka. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka, bukan kamu yang memberi rezeki kepada mereka, dan kami juga yang memberi rezeki kepadamu. Janganlah kamu mencemaskan mereka karena kemiskinan, maka oleh sebab itu kamu membunuhnya. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar.


Senin, 08 Maret 2021

MACAM KUWALITAS QIRAAT

 

MACAM KUALITAS QIRAAT

DAN TOLAK UKUR DITERIMANYA QIROAAT

 

Macam-macam Qira’at al-Qur’an

Beberapa ulama ilmu Al-Qur’an berpendapat bahwa qiraat ada tiga macam, mutawatir, ahad dan syadz. Mereka berpendapat bahwa qiraat yang mutawatir adalah qiraat tujuh, kemudian qiraat sepuluh dan qiraat para sahabat adalah ahad. Sebagian berpendapat bahwa qiraat sepuluh adalah mutawatir. Sedangkan selain qiraat tersebut, menurut pandangan ulama adalah syadz.

Menurut Al-Jazari seperti dikutip al-Suyuti dan juga Zarqani, memaparkan macam-macam qiraat ditinjau dari segi kualitas sanad adalah: mutawatir, masyhur, ahad, syadz, maudhu’ dan mudraj.

 

1. Qiraat mutawatir,

adalah qiraat yang disandarkan pada periwayat yang terpercaya dan tidak mungkin mereka berdusta.

2. Qiraat masyhur,

adalah qiraat yang sanadnya sahih tetapi tidak sampai mutawatir, sesuai dengan kaidah bahasa Arab, rasm Uthmani dan terkenal dikalangan ahli qiraat. Oleh sebab itu, qiraat tersebut tidak dikatakan syadz.

3. Qiraat ahad,

adalah qiraat yang sanadnya sahih, tetapi rasmnya berbeda dengan rasm Uthmani. Demikian juga dengan kaidah dalam bahasa Arabnya yang berbeda serta tidak se-masyhur seperti tersebut di atas, seperti terdapat

Dalam surah al-Taubah ayat 128:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفَسِكُمْ  Kata (أَنْفُسِكُمْ) dibaca dengan (أَنْفَسِكُمْ).

Dalam surah al-Rahman ayat 76

مُتَّكِئِيْنَ عَلَي رَفَارِفَ خُضْرِ وَعَبَاِرقِيِّ حِسَان Kata (رَفْرَفَ) dibaca dengan (رَفَارِفَ).

Kedua bacaan qiraah di atas al-Hakim melalui jalur ‘Ashim Jahdari, dari Abu Barkah, dari Nabi SAW.

4. Qiraat syadz,

adalah qiraat yang sanadnya tidak sahih. Seperti qiraat Ibn al-Samaifah, seperti dalam surah Yunus ayat 92:

فَالْيَوْمَ نُنْحِيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلَفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

Kata (نُنَجِّيكَ) di baca dengan (نُنْحِيْكَ) dan kata (خَلْفَكَ) dibaca dengan(خَلَفَكَ).

Menurut Abu Amr Ibn Hajab, seperti dikutib al-Jazari, qiraat yang syadz dilarang pembacaannya pada saat solat dan lainnya. Sedangkan menurut mazhab Syafii, apabila seseorang mengetahui bahwa suatu bacaan adalah qiraat syadz dan membacanya pada saat salat, maka batallah solatnya. Jika tidak mengetahui, maka terbebas dari kesalahan.[1]

5. Qiraat maudhu,

adalah qiraat yang tidak ada asalnya. Sebagai contoh, qiraat yang dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah dalam surah al-Fatir ayat 28

إِنَّماَ يَخْشَي الله مِنْ عِبَادِهِ الْعَلَمَاءِ

Kata ( اللهَ ) dengan posisi Mansub dibaca dengan ( اللهُ )dengan posisi Rafa’. Dan kata العلماءُ )   (dengan posisi Marfu’ dibaca dengan (العلماءَ ) dengan posisi Mansub. Menurut Zarqani qiraat tersebut tidak memiliki dasar sama sekali, sehingga Abu Hanifa terbebas darinya.

6. Qiraat mudraj,

adalah qiraat yang disisipkan penafsiran seperti qiraat yang diambil dari Ibn Abbas, seperti terdapat Surah al-Baqarah ayat 198

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ في مواسم الحج فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

Kalimat (في مواسم الحج) adalah penafsiran yang diselipkan dalam nash ayat tersebut.

Juga terdapat dalam surah Nisa ayat 12:

وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ أمٍّ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ

Tambahan kata (أمٍّ) adalah qiraah S’ad Ibn Abi Waqqash.[2]

 

Syarat Diterimanya Qira’at

Menurut Manna al-Qattan, syarat diterimanya qiraat adalah:

1)  Qiraat harus sesuai dengan kaidah bahasa arab, seperti segi kefasihannya.

2)  Qiraat harus sesuai dengan rasm Uthmani. Apabila terdapat sedikit perbedaan, maka qiraat tersebut masih dapat diterima. Sebagai contoh dalam surah al-Fatihah, (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ), pada kata (الصِّرَاطَ) diganti dengan huruf sin (س). Contoh lainnya adalah ayat (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) dengan membuang huruf alif pada kata (مَالِكِ) sehingga menjadi (ملك).

3)  Qiraat harus memenuhi kesahihan sanad.[3] Menurut al-Jazari, qiraat sahih mencakup dua aspek, yakni: memiliki kesahihan sanad dan sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan rasm.[4]

Hal yang perlu digaris bawahi terkait dengan syarat diterimanya qiraat atau tidak adalah bahwa ketiga kategori di atas kerap disebut sebagai qiraat yang mutawatir. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menolaknya. Jika terdapat qiraat yang tidak memenuhi kategori di atas maka tidak diterima. Penulis mendasarkan pendapat pada penjelasan Zarqani terhadap sebuah nazam yang ditulis oleh penulis kitab al-Thaiyibah sebagai berikut:

وكل ما وافق وجه النحو # وكان للرسم احتمالا يحوي

وصح إسنادا هو القرأن # هذه ثلاثة الأركان

Kata-kata (وصح إسنادا) di atas kemudian pahami sebagai riwayat yang mutawatir.[5]

 

Menurut Imam Makki seperti dikutip Zarqani juga memaparkan tentang syarat suatu qiraat yang dapat diterima atau tidak, yaitu:

1)  qiraat yang dapat diterima dengan memenuhi tiga syarat, yaitu diriwayatkan oleh orang yang tsiqah; sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan rasm mushaf.

2)  periwayatannya sahih, sesuai dengan kaidah bahasa Arab tetapi tidak sesuai dengan rasm mushaf. Qiraat ini tetap dapat diterima, tetapi tidak dapat dipergunakan dalam bacaan meskipun periwayatannya sahih. Hal ini dikarenakan jika qiraat tersebut dibaca, maka akan dianggap sebagai al-Qur’an. Karena didalam al-Qur’an sendiri terdapat hukum-hukum, maka membacanya ditakutkan mengundang kesalahpahaman.

3)  qiraat yang diriwayatkan oleh perawi yang siqah atau pun tidak, tetapi tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, maka qiraat ini tidak dapat diterima. Meski qiraat tersebut telah sesuai dengan rasm mushaf.[6]

Terkait dengan syarat diterimanya qiraat, terdapat silang pendapat dikalangan ahli nahwu. Mereka beranggapan bahwa qiraat yang sanadnya sahih sekalipun, jika tidak sesuai dengan kaidah nahwu, maka qiraatnya ditolak. Terkait hal tersebut, Qattan mengutip pendapat Abu Amr al-Dani yang mengatakan jika suatu qiraat telah sahih dalam periwayatan dan penukilan, maka riwayat tersebut tidak bisa ditolak.

 

[1] Ibn Jazari, Taqrîb al-Nasyr Fî al-Qiraat al-‘Asyar, (Kairo: Dar al-Hadis, 2004), h. 28

[2] Jalaluddin al-Suyuti, Al-Itqân Fî Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 2007), vol. 1, h, 110. Lihat pula dalam: Muhammad Abdul al-Azim al-Zarqani, Manâhi al-Irfân Fî Ulûm al-Qur’an, (Beirut: Dar Kutub al-Arabi, 1995), vol. 1, h. 349

[3] Manna Khalil Qattan, Mabahîs Fî Ulûm al-Qur’an, (Kairo: Maktabah Wahbah, tt), h. 169

[4] Ibn Jazari, Taqrîb al-Nasyr Fî al-Qiraat al-‘Asyar, (Kairo: Dar al-Hadis, 2004), h. 27

[5] al-Zarqani, Manâhi al-Irfân Fî Ulûm al-Qur’an, vol. 1. H. 343

[6] al-Zarqani, Manâhi al-Irfân Fî Ulûm al-Qur’an, vol. 1. H. 344


Kamis, 04 Maret 2021

Masjid Istiqlal (2)


 

مسجد الاِسْتِقْلاَل(2)

وتبلغ مساحة المسجد نفسه حوالى هكتار واحد,ثم افتتحه السيد سوهرتو رئيس الجمهورية السابق في ٢٢ ( الثاني و العشرين ) من فبراير سنة ١٩٧٨ ( ألف وتسعمائة وثمان وسبعين ) م.

إنه أكبر مسجد في إندونيسيا بل في جنوب شرقي آسيا ويقوم المبنى الرئيسي للمسجد على ١٢ عمودا, مصفحا بالصلب المضاد للصداء.

ويتكون المسجد من خمس طبقات : نجد فى الطبقة الأولى الكاتب والأمكنة المخصصة للوضؤ والمراحيض, ونجد فى الطبقة الثانية ساحة مكشوفة تجعل المسجد تتسع لمائة الف مصل.

وتعلو المسجد قبة كبيرة يبلغ قطرها ٤٥ ( خمسة وأربعين ) مترا. مصنوعة من الخزف الألماني الفاخر المضاد للحريق. ويعلو القبة هلال يبلغ قطرها ٣ امتار وينتهى بنجمة خماسية. أما المئدنة فيبلغ ارتفاعها اكثر من ٢٥ مترا.

 

TARJAMAH

مسجد الاِسْتِقْلاَل(2)

Masjid Istiqlal (2)

 

وتبلغ مساحة المسجد نفسه حوالى هكتار واحد

Halaman Masjid ( istiqlal ) sendiri sekitar 1 hektar

ثم افتتحه السيد سوهرتو رئيس الجمهورية السابق في ٢٢ ( الثاني و العشرين ) من فبراير سنة ١٩٧٨ ( ألف وتسعمائة وثمان وسبعين ) م.

Kemudian diresmikan oleh Tuan Soeharto Mantan Presiden Indonesia pada tanggal 22 ( Dua puluh Dua ) Februari 1978 M

إنه أكبر مسجد في إندونيسيا بل في جنوب شرقي آسيا

Masjid Istiqlal merupakan Majid Terbesar di Indonesia bahkan Di Asia tenggara

ويقوم المبنى الرئيسي للمسجد على ١٢ عمودا, مصفحا بالصلب المضاد للصداء

Bangunan utama Masjid berdiri di atas 12 tiang yang dilapisi dengan baja anti karat

 

ويتكون المسجد من خمس طبقات : نجد فى الطبقة الأولى المكاتب والأمكنة المخصصة للوضؤ والمراحيض

Masjid Istiqlal terdiri dari 5 tingkat, kita dapati di tingkat pertama perkantoran dan tempat-tempat khusus untuk wudlu dan toilet

 

ونجد فى الطبقة الثانية ساحة مكشوفة تجعل المسجد تتسع لمائة الف مصل

Dan kita dapati di tingkat kedua halaman terbuka yang menjadikan masjid mampu menampung 100.000 orang sholat

وتعلو المسجد قبة كبيرة يبلغ قطرها ٤٥ ( خمسة وأربعين ) مترا. مصنوعة من الخزف الألماني الفاخر المضاد للحريق.

Diatas masjid terdapat Kubah yang besar berdiameter 45 M, terbuat dari porselin perancis yang indah dan tahan api.

ويعلو القبة هلال يبلغ قطرها ٣ امتار وينتهى بنجمة خماسية. أما المئدنة فيبلغ ارتفاعها اكثر من ٢٥ مترا.

Dan diatas Kubah terdapat Bulan yang berdiameter 3 M berujung dengan Bintang segi Lima. Adapun Menara masjid mencapai tinggi 25 M.

Editeb by. Ahmad Turmudzi Zhein

Rabu, 03 Maret 2021

ADDIROSAH FIL JAAMI'AH

 

 

الدراسة فى الجامعة 

يلتحق الطالب بلمرحلة الجامعية بعد أن يكمل دراسته في مرحلة الثانوية. ويرى كثير من الناس ان المرحلة الجامعية من أهم المراحل الدراسية التي يعتبرها العلماء عنصورا أساسيا وضروريا يدعم تنمية الشخصية للشباب في حياتهم

وهي مرحلة تظهر بالإنتاج والعطاء والبدل, وهي فترة تبدو بالعمل والنشاط والجد والتبادل ويجد فيها الطالب الجامعي كثيرا منالخبرات والمهارات التي لم يجدها في مراحل التعليم الأخرى ولم يكتسبها قبلها

وتكون هناك أمورا تميز تلك المرحلة الجامعية عن المراحل الأخرى وتظهر أهميتها عن غيرها

 

الدراسة فى الجامعة

BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI

 

يلتحق الطالب بالمرحلة الجامعية بعد أن يكمل دراسته في مرحلة الثانوية. ويرى كثير من الناس ان المرحلة الجامعية من أهم المراحل الدراسية

Seorang murid akan melanjutkan belajarnya di perguruan tinggi setelah menyelesaikan belajarnya di tingkat sekolah menengah atas.Banyak orang berpendapat bahwasanya tingkat prguruan tinggi merupakan tingkatan belajar yang paling penting.

التي يعتبرها العلماء عنصورا أساسيا وضروريا يدعم تنمية الشخصية للشباب في حياتهم

Yang mana para cendekiawan menganggapnya sebagai unsur dasar dan penting dalam mendorong pengembangan pribadi para remaja dalam kehidupan mereka

وهي مرحلة تظهر بالإنتاج والعطاء والبدل, وهي فترة تبدو بالعمل والنشاط والجد والتبادل

Tingkatan perguruan tinggi menampakkan hasil dengan memberi dan kesungguhan, dan merupakan tahapan yang menampakkan kerja, semangat, keseriusan dan sharing / berbagi

ويجد فيها الطالب الجامعي كثيرا منالخبرات والمهارات التي لم يجدها في مراحل التعليم الأخرى ولم يكتسبها قبلها

Mahasiswa menemukan di perguruan tinggi banyak pengalaman dan keterampilan yang tidak ia temukan di jenjang pendidikan lain dan tidak ia peroleh sebelumnya

وتكون هناك أمورا تميز تلك المرحلة الجامعية عن المراحل الأخرى وتظهر أهميتها عن غيرها

Dan ada hal-hal yang membedakan tahapan perguruan tinggi tersebut dari tahapan lainnya dan menunjukkan pentingnya tahapan perguruan tinggi dari tahapan lainnya

 


Selasa, 02 Maret 2021

HIDUP SEDERHANA SURAT AL-ISRAA AYAT 29

 

HIDUP SEDERHANA

SURAT AL-ISRAA AYAT 29


 

Quran Surat Al-Isra Ayat 29

 وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ ٱلْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا

 

Terjemah Arti:

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. 

Tafsir Quran Surat Al-Isra Ayat 29

Dan janganlah engkau menahan tanganmu dari berinfak di jalan kebaiakan, sebagai tindakan menyempitkan dirimu, keluargamu dan orang-orang yang membutuhkan, dan janganlah pula berlebihan dalam berinfak, hingga engkau memberikan apa yang melebihi kemampuanmu, akibatnya engkau duduk dalam keadaan tercela, orang-orang mencaci dan mencelamu, lagi menyesal atas sikap mubadzirmu dan habisnya hartamu.

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

29.Dan janganlah menahan tanganmu dari memberi harta, dan jangan melampaui batas dalam memberi, nanti engkau akan dicela oleh manusia lantaran kekikiranmu bila enggan memberi, juga nanti engkau akan menyesal dan berhenti dari memberi lantaran habisnya hartamu yang engkau berikan secara berlebihan karena tidak ada lagi yang dapat engkau berikan setelahnya.

Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)

29-30. Allah memberi petunjuk kepada orang-orang beriman untuk berinfak sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan: “Janganlah kamu menahan tanganmu untuk berinfak di jalan kebaikan dan jangan pula berlebih-lebihan dalam berinfaq sehingga tidak tersisa sedikitpun harta di tanganmu, karena itu akan membuatmu terhina di hadapan Allah dan para makhluk, dan membuatmu menyesal karena telah menghabiskan harta. Sungguh Tuhanmu akan meluaskan rezeki sebagian manusia dan menyempitkan rezeki sebagian lainnya. Allah Maha Mengetahui kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya dan Maha bijaksana dalam membagi rezeki.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah

29. وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ (Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya) Yakni keadaan orang yang pelit adalah seperti keadaan orang yang tangannya terikat di lehernya sehingga tidak dapat menggerakkannya.

 فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا(karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal) Akibat sikap berlebih-lebihan yang kamu lakukan, kamu tidak dapat mencukupi kebutuhan karena kemiskinan. Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap setiap orang yang berpendapat tentang orang yang menginfakkan seluruh hartanya tanpa menyisakannya sepersepun untuk bekal hari esok.

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

29. Janganlah kamu cegah tangan kamu untuk berinfak sebagaimana orang yang membelenggu tangannya di leher, yaitu janganlah kamu pelit. Dan janganlah kamu melebarkan infak kamu sampai terlalu berlebihan sehingga kamu menjadi tercela di sisi Allah dan manusia, serta menjadi orang yang menyesal dan bersedih. Nabi SAW bersabda kepada Aisyah: “berinfaklah secukupnya saja” Kemudian Aisyah berkata: “Kalau begitu tidak ada yang tersisa sedikitpun” Lalu Allah menurunkan ayat {Wa Laa taj’al yadaka…}

Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

29. Sementara itu, Allah berfirman disini, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu.” Ini adalah ungkapan kiasan bagi orang yang sangat bakhil “dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya,” akibatnya, engkau membelanjakannya bukan pada pos yang sepatutnya atau melebihi ukuran yang wajar “karena itu kamu,” apabila kamu melakukan hal itu “menjadi tercela,” maksudnya terkena cacian atas apa yang telah kamu lakukan dan “menyesal,” maksudnya bersedih hati, tangannya hampa, tidak tersisa sedikit pun harta di tangan, dan tidak pula digantikan oleh pujian maupun sanjungan.

Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H

Makna kata: (مَغۡلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ) maghluulatan ilaa ‘unuqik : jangan menahan dari berinfak, seakan-akan tanganmu terikat di lehermu, tidak bisa memberikan apapun.

(وَلَا تَبۡسُطۡهَا كُلَّ ٱلۡبَسۡطِ) wa laa tabsuthhaa kullal basth : jangan menginfakkan seluruh apa yang engkau miliki sampai tidak tersisa sama sekali

 (فَتَقۡعُدَ مَلُومٗا) fataq’uda maluumaa : orang yang tidak mendapatkan infakmu akan mencelamu.

(مَّحۡسُورًا) mahsuuraa : engkau tidak bisa melangsungkan hidup karena tidak punya apa-apa.

Makna ayat: Firman-Nya ta’ala “Dan jangan jadikan tanganmu terbelenggu di lehermu...” janganlah engkau bakhil atas apa yang telah Allah ta’ala berikan kepadamu, lalu engkau tidak memberikan hak orang-orang yang membutuhkan, seakan-akan tanganmu terikat di lehermu, tidak bisa memberikan infak. Firman-Nya ta’ala “dan jangan lapangkannya selapang-lapangnya...” jangan engkau buka tanganmu untuk memberi, sampai tidak tersisa apapun di kantungmu atau di perbendaharaanmu untuk dirimu dan keluargamu. Firman-Nya ta’ala “sehingga engkau menjadi tercela dan menyesal.” Jika engkau tidak memberikan orang yang memintamu, engkau akan dicela, adapun jika engkau menginfakkan segala yang engkau punya, lalu engkau tidak bisa melanjutkan kehidupanmu dan sisa umurmu, seperti seekor unta yang telah lelah karena perjalanan, ia tidak mampu melanjutkan perjalanan dan ditinggalkan dengan penuh penyesalan, pemiliknya tidak mampu mengembalikannya kepada keluarganya tidak pula melanjutkan perjalanan menuju tujuan.

Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi

Ini merupakan kinayah (kiasan) sikap menahan tangannya dari berinfak (terlalu kikir). Seperti mengeluarkan harta untuk hal yang tidak patut atau melebihi dari yang patut. Karena tidak berinfak. Karena terlalu pemurah, sehingga di tanganmu tidak ada harta.

Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I

Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenngu pada lehermu, yakni janganlah enggan mengulurkan tanganmu memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan, dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya, yakni janganlah kamu boros dalam membelanjakan harta, karena itu kamu menjadi tercela karena kekikiranmu, dan menyesal karena keborosanmu dalam membelanjakan harta. Sebab utama sifat kikir manusia adalah karena takut terjerumus ke dalam kemiskinan. Ayat ini mengingatkan bahwa sungguh, tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang dia kehendaki untuk dilapangkan rezekinya dan menyempitkannya kepada siapa yang dia kehendaki untuk disempitkan rezekinya; sesungguhnya dia maha mengetahui segala sesuatu, maha melihat akan hamba-hambanya. Dia memberikan kepada hamba-Nya segala sesuatu yang menjadi kebutuhan dan kemaslahatannya apabila ia menjalani sebab-sebab untuk mendapatkannya.