Jumat, 30 Juli 2021

PERADABAN ISLAM اَلْحَضَارَةُ اْلإِسْلاَمِيَّةُ

 

اَلْحَضَارَةُ اْلإِسْلاَمِيَّةُ

PERADABAN ISLAM

جَرَى الْحِوَارُ بَيْنَ الْمُدَرِّسِ وَالطَّلَبَةِ فِيْمَا يَلِي

Berlangsung percakapan antara guru dan para siswa sebagai berikut :

الْمُدَرِّس 

نَحْنُ اْلانَ نَتَحَدَّثُ عَنِ الْحَضَارَةِ اْلإِسْلاَمِيَّةِ، هَلْ عِنْدَكُمْ كِتَابُ تَارِيْخِ الْحَضَارَةِ اْلإسْلاَمِيَّةِ

الطلبة

نَعَمْ،عِنْدَنَا كِتَاب " تَارِيْخ الْحَضَارَةِ اْلإسْلاَمِيَّةِ".

الْمُدَرِّس 

مَاذَا وَجَدْتَ فِي هذَا الْكِتَابِ، يَا عمر ؟

عمر

وَجَدْتُ اِهْتِمَامَ عُلَمَاءِ اْلإِسْلاَمِ اْلأَوَائِلِ بِالْعُلُوْم التَّجْرِيْبِيَّة

                

Kita sekarang berbicara tentang peradaban Islam, apakah Anda punya buku tentang sejarah peradaban Islam

Guru

Ya, kami punya buku, Sejarah peradaban islam

Para Siswa

Apa yang Anda temukan dalam buku ini, hai Umar?

Guru

Saya menemukan perhatian para ulama awal Islam dalam ilmu empiris /terapan

Umar


الْمُدَرِّس 

يا عبد الرحمن  اِشْرَحْ لَنَا مَاذَا تَقْرَأُ فِي هذَا الْكِتَابِ !

عبد الرحمن 

يَتَحَدَّثُ هذَا الكِتَابُ عَنِ عُلَمَاءِ اْلإِسْلاَمِ فِي مَجَالِ الْعُلُوْمِ التَّجْرِيْبِيَّةِ مِثْلُ الْكِيْمِيَاءِ وَالْفِيْزِيَاءِ وَالطِّبِّ.

الْمُدَرِّس 

اُذْكُرْ هؤُلاَءِ الْعُلَمَاءَ يَا أحمد ؟

أحمد

مِنْهُمْ جَابِرٌ بْنُ الْحَيَّان وَأَبُو بَكْر ٍالرَّازِي وَابْنُ هَيْثَمٍ وَغَيْرُهُم كَثِيْرٌ.

الْمُدَرِّس

صَحِيْح،عَرَفْنَا أَنَّ جَابِرًا أَعْظَمُ كِيْمِيَائِيِّيْن، عِنْدَهُ مُصَنَّفَاتٌ مَشْهُوْرَةٌ فِي الْكِيْمِيَاءِ


Wahai Abdurrahman, jelaskan kepada kami apa yang Anda baca dalam buku ini!

Guru

Buku ini berbicara tentang ulama Islam di bidang ilmu eksperimental/terapan seperti kimia dan fisika

Abdur rahman

Sebutkan siapa saja mereka para ilmuwan itu wahai Ahmad ?

Guru

Jabir ibn al-Hayyan, Abu Bakr al-Razi, Ibn Haytham, dan banyak lainnya termasuk di antara mereka

Ahmad

Benar kitai tahu bahwa Jaber adalah ahli kimia terhebat, dan dia memiliki klasifikasi terkenal di bidang kimia.

Guru


الْمُدَرِّس 

هَلْ وَجَدْت شَيْئًا آخَرَ فِى هذَا الْكِتَابِ يَا سلمى؟

سلمى 

نَعَمْ، وَوَجَدْتُ ابْنَ هَيْثَمٍ، فَهُوَ مُنْشِئُ عِلْمِ الضَّوْءِ، وَالْبَيْرُوْنِيّ الَّذِي اشْتَهَرَ بِقِيَاسِ أَبْعَادِ اْلأَرْضِ، وَبَيَانِ كُسُوْفِ الشَّمْسِ،وَغَيْرِ ذلِكَ مِنْ حَرَكَاتِ النُّجُوْم وَالْكَوَاكِب.

هند     

وَجَدْتُ أَيْضًا، قَدْ نَجَحَ الرَّازِي فِي عِلْمِ الطِّبِّ حَتَّى لُقِّبَ بِأَمِيْرِ اْلأَطِبَّاءِ

الْمُدَرِّس 

هَلْ وَجَدْتَ فِى مَجَالِ الرِّيَاضِيَّات، يَا زينب ؟

زينب

نَعَمْ، وَجَدْتُ، قَدْ سَبَقَ عُلَمَاءُ اْلإِسْلاَمِ الْمَشْهُوْرُوْنَ فِي الرِّيَاضِيَّاتِ، مِنْهُمْ  اِبْنُ جَابِر الْبَتَّانِي وَمُوْسَى ابْنِ شَاكِر  وَالْبَيْرُوْنِيّ


Apakah Anda menemukan hal lain dalam buku ini, hai salma?

Guru

Ya, Ibnu Haisam, dia pencipta ilmu cahaya, dan Bairuni terkenal karena mengukur dimensi Bumi, dan menerangkan gerhana matahari, dan yang lain dari pergerakan bintang bintang dan planet planet

Salma

Saya juga menemukan bahwa Al-Razi telah berhasil dalam ilmu kedokteran sampai dia disebut Bapak para Dokter

Hindun

Apakah kamu menemukannya di bidang matematika, hai Zainab?

Guru

Ya, saya temukan, para ulama Islam terdahulu yang terkenal dalam matematika, di antaranya adalah Ibn Jaber al-Battan Musa Ibnu syakir dan Bairuni

Zainab


الْمُدَرِّس 

هل وَجَدْتَ شَيْئاً آخَرَ أَهَمَّ مِنْ ذلِكَ كُلِّه، يَا مريم ؟

مريم 

نَعَم، وَجَدْتُ شَيْئاً آخَرَ أَهَمَّ مِنْ ذلِكَ كُلِّه هواَلإِسْلاَمُ...كَانَ الإِسْلاَمُ أَقْوَى الْعَوَامِلِ الَّتِي تَدْعُو الْمُسْلِمِيْن إِلَى التَّقَدُّم الْحَضَارِيّ فِي مَيَادِيْنِ الْعُلُوْمِ.

الْمُدَرِّس 

صحيح هناك آيات قرآنية تحث على المسلمين وتفرضهم فى النظر الى الكون


Apakah Anda menemukan hal lain yang lebih penting dari semua itu,hai Maryam

Guru

Ya, saya menemukan hal lain yang lebih penting dari semua itu, yaitu Islam ... Islam adalah faktor terkuat yang menngajak kaum muslimin untuk memajukan peradaban dalam bidang ilmu pengetahuan

Mariyam

Benar… terdapat banyak ayat alQuran yang memotivasi kaum muslimin dan mewajibkan mereka untuk berfikir akan keadaan alam

Guru



Edited By :
AHMAD TURMUDI ZHEIN
Guru Bahasa Arab MA AlHidayah Kendal


Kamis, 29 Juli 2021

MENGENAL AL-QUR’AN TENTANG KANDUNGAN DAN KEASLIAN AL-QURAN

 

MENGENAL AL-QUR’AN

KANDUNGAN DAN KEASLIAN AL-QURAN

 

1. Kandungan Al-Quran

Al-Qur’an mengandung petunjuk yang menjamin kebahagiaan manusia baik  lahir maupun batin, di dunia maupun akhirat jika mampu mengamalkan apa-apa yang terkandung di dalamnya secara ikhlas, konsisten, dan menyeluruh (kaffah). Kenapa para Sahabat dikatakan sebagai “generasi terbaik”? Di antara faktor penyebabnya adalah karena mereka mengamalkan al-Qur`an yang diantara kandungannya adalah nilai-nilai luhur pembentukan mental dan karakter sesuai yang dituntunkan Allah Swt..

Kandungan al-Qur`an mencakup banyak hal, dari hubungan manusia dengan Allah Swt. hubungan antar-manusia dan hubungan dengan alam semesta. Menurut Muhammad Abduh (w. 1323 H/1905 M) dalam Tafsir al-Manar, kandungan al-Qur`an terdiri dari:

a.  At-Tauhid (Ajaran Ketauhidan)

Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan. Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.  Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits.

Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari. Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.

Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.  Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.

b.  Al-Wa’d wal Wa’id (janji terhadap mereka yang taat dan peringatan bagi yang membangkang)

Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.  Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.  Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil) 

c.  Al-‘Ibadah (Ibadah)

Ibadah berasal dari kata 'abada-ya'budu-'abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.  Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.  Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak.

Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.  Firman Allah SWT: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat  : 56).

Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.

Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.  Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya 

d.  Sabilus Sa’adah (Penjelasan tentang jalan menuju kebahagian dunia dan akhirat)

            AlQuran menerangkan pola-pola kehidupan yang benar dan tutuntan untuk menjalaninya bahkan Al-Quran lebih jauh menerangkan adanya kehidupan setelah kematian yang dinamakan dengan kehidupan akhirat.

            Sebagaimana Islam mengajarkan akan akan adanya tahapan alam kehidupan yang dilalui manusia yakni : Alam Azali, Alam Rahim, Alam Dunia, Alam Kubur dan Alam Akhirat

e.  Al-Qaṣ aṣ (kisah-kisah umat terdahulu)

Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.  Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.

 لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).

Ulama lain menyebutkan bahwa kandungan al-Qur`an adalah akidah, syari’ah, dan  akhlak, sedang yang lain lagi ada yang mengatakan bahwa kandungan al-Qur`an adalah ketauhidan, hukum dan peringatan.

 

2. Bukti Keaslian Al-Quran

    Al-Qur’an dijamin keotentikannya oleh Allah. Ia adalah kitab yang selalu dipelihara oleh Allah. Sebagaimana difirmankan dalam QS. Al-Ḥijr [15]: 9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ


Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar benar memeliharanya.

    Demikianlah Allah menjamin keotentikan al-Qur`an, jaminan yang diberikan atas  dasar kemahakuasaan dan kemahatahuan-Nya. Dengan jaminan ayat di atas, setiap umat Islam wajib percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca, didengar Rasulullah Saw. dan para Sahabat dan tidak pernah terjadi perubahan.

M. Quraish Shihab (mufassir Indonesia dan penulis Tafsir al-Misbah) mengatakan bahwa Dr. Musthafa Mah mud yang mengutip pendapat Rasyad Khalifah, mengemukakan bahwa dalam al-Qur`an sendiri terdapat bukti-bukti akan keasliannya.

Diantara bukti buktinya adalah huruf-huruf hijaiyah yang terdapat pada awal beberapa surat (al-aḥruf almuqaṭ ṭa’ah). Jumlah keseluruhan dari al-aḥruf al-muqaṭṭa’ah yang terdapat dalam satu surat tersebut habis jika dibagi dengan angka 19

Rasyad Khalifah mengambil angka 19 dari ayat QS. Al-Muddassir [74] ayat ا 30 : عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ Artinya “di atasnya ada sembilan belas ( Malaikat penjaga ) Ayat ini turun dalam konteks  “ancaman terhadap seorang yang meragukan kebenaran al-Qur`an”. Angka 19 juga merupakan jumlah keseluruhan dari huruf dari kalimat basmalah

 

Berikut contohnya:

a.  Huruf qaf (ق) yang merupakan awal dari surat Qaf (ق), ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau sama dengan hasil perkalian 19 X 3.

b.  Huruf-huruf kaf, ha’, ya’, ‘ain, ṣ ad, (كهيعص) dalam surat Maryam, ditemukan sebanyak  798 kali atau sama dengan hasil perkalian 19 X 42.

c.  Huruf nun (ن) awal surat Al-Qalam (القلم), ditemukan sebanyak 133 kali atau sama  dengan hasil perkalian 19 X 7.

d.  Huruf (ya’) dan (sin) pada surat Yasin ( يسى ) masing-masing ditemukan sebanyak 285  kali atau sama dengan hasil perkalian 19 X 15.

e.  Hurur Ṭa dan ha pada surat Ṭaha (طه) masing-masing berulang sebanyak 342 kali,  atau sama dengan hasil perkalian 19 X 18.

f.  Huruf-hurur ḥa dan mim pada surat Ha mim (حم ) masing-masing berjumlah 2.166  yang kesemuanya merupakan perkalian 19 X 114.

Bilangan-bilangan tersebut oleh Rasyad Khalifah dijadikan salah satu bukti keotentikan al-Qur`an. Menurutnya, seandainya ada ayat yang berkurang, bertambah atau diganti kata atau kalimatnya, maka tentu perkalian-perkalian tersebut tidak akan berfungsi dan akan hilanglah sisi keunikan al-Qur`an.

By. Ahmad Turmudi, S.Ag
Guru Tafsir Ilmu Tafsir MA. Alhidayah Kendal


Rabu, 28 Juli 2021

TAAT PADA ALLAH DAN ROSUL-NYA KUNCI HIDUP BAHAGIA



 

TAAT PADA ALLAH DAN ROSUL-NYA

KUNCI HIDUP BAHAGIA

 

1.  Ayo Membaca Surah An-Nisa` [4] ayat 80 dengan tartil

مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ ٱللَّهَ ۖ وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

 

Mufrodat

Arti

Mufrodat

Arti

Mufrodat

Arti

مَّن

Siapa saja

يُطِعِ

Mentaati

ٱلرَّسُولَ

Utusan

فَقَدْ

Maka Sungguh

أَطَاعَ

Telah taat

ٱللَّهَ

Allah

وَمَن

Dan Siapa

تَوَلَّىٰ

Berpaling

فَمَآ

Maka tidak

أَرْسَلْنَٰكَ

Aku mengutusmu

عَلَيْهِمْ

Atas mereka

حَفِيظًا

Sebagai penjaga


2. Terjemah :

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

3.  Ayo Memaknai Mufradat Penting

Kalimat . مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ ۖ

(Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah) Ayat ini menjelaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah merupakan ketaatan kepada Allah karena Rasulullah tidak memerintahkan kecuali apa dengan apa yang diperintahkan Allah, dan tidak melarang sesuatu kecuali terhadap apa yang dilarang oleh Allah, karena ketaatan kepada orang yang diutus merupakan ketaatan kepada yang telah mengutusnya. 

Kalimat  وَمَن تَوَلَّىٰ

( Dan barangsiapa yang berpaling) Yakni yang berpaling dari ketaatan kepadamu (Muhammad) maka sebenarnya mereka telah bermaksiat dan menentang kepada Allah

Kalimat فَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi  pemelihara bagi mereka. Dimaksudkan agar Rasul Saw. tidak menggebu nggebu dalam berdakwah terhadap mereka dan merasa bersalah jika manusia tidak beriman. Hal ini dimaksudkan untuk meringankan beban yang sedemikian besar yang ditanggung oleh Rasulullah SAW.

5.  Ayo Memahami

        Ananda mari kita pelajari uraian berikut ini dan lebih baik lagi jika ananda  juga menggali informasi dengan mencari materi tambahan dari sumber belajar lainnya! Perintah atau larangan yang berasal dari Rasulullah dalam perkara-perkara di luar agama hukumnya bukan wajib atau haram. Ketaatan kepada Rasulullah  adalah juga merupakan satu bentuk ketaatan kepada Allah. Pada dasarnya, ketaatan  kepada Rasulullah ini seharusnya bukanlah berangkat dari al-Qur`an semata, akan tetapi hal ini karena sosok beliau yang ideal untuk diteladani. Beliau bergelar al- Amin sejak sebelum menerima risalah, mufassir al-Qur`an, mufti (pemberi fatwa), hakim, khalifah atau pemimpin, suami, bapak dan pribadi atau individu yang akhlaknya sangat mulia. Bahkan Allah menegaskan akan kemuliaan akhlak beliau dalam QS. Al-Qalam [68] ayat 4 :

 وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ 

Artinya: dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Setelah al-Qur`an, seorang peneliti barat Michael H. Hart, yang menulis “100 Tokoh Yang Paling Berpengaruh” pada tahun 1978, menempatkan Rasulullah Muhammad pada peringkat pertama, Nabi Isa menempati peringkat ketiga, sedangkan Isaac Newton peringkat kedua. Rasulullah bukanlah sosok yang otoriter. Beliau menerima pendapat, ide dan masukan para sahabat sesuai dengan kompetensi atau keahlian mereka masingmasing, misalnya di bidang pertanian atau pertahanan. Menurut sejarah, para

Sahabat bertanya terlebih dahulu apakah perintah atau larangan itu dari Allah atau pendapat Rasulullah sendiri. Jika dari Allah maka mereka menaati tanpa raguragu dan jika ini pendapat Rasulullah pribadi maka para sahabat baru memberikan pendapat-pendapat mereka. Sebagaimana ketika Rasulullah menentukan tempat untuk pertahanan ketika peperangan Badar, beliau menerima ide seorang sahabat yang bernama Sa’d ibn Muaz dan ide Salman Al-farisi pada saat perang Khandaq.

Contoh lain, pada perundingan Hudaibiyah, sebagian besar sahabat berat hati menerima rincian perjanjian itu. ‘Umar bin Khaṭṭab secara tegas mempertanyakan mengapa syarat perjanjian itu diterima. Akhirnya semua terdiam dan menerima dengan lapang dada setelah Rasulullah bersabda “Aku adalah utusan Allah“. Demikian para sahabat membedakan kedudukan beliau sebagai rasul dan pribadi.

Ayat ini juga menegaskan agar Rasulullah tidak perlu mengambil tindakan kekerasan atau memaksa orang-orang untuk taat, karena pada hakekatnya beliau diutus bukanlah sebagai penjaga amal-amal perbuatan mereka. Beliau diutus hanya untuk menyampaikan berita gembira dan peringatan. Sedangkan, imbalan bagi orang-orang yang tidak mau taat adalah terserah kepada Allah, hendak diberi ganjaran dan ataukah mendapatkan hukuman. Beriman atau tidaknya seseorang  bukanlah karena paksaan akan tetapi kesadaran setelah melalui proses berfikir.

Pada hakekatnya, perintah dan larangan Allah adalah wujud kasih sayang-Nya kepada kita. Allah memberi kita perintah karena Allah tahu betul bahwa apa yang diperintahkan-Nya itu bermanfaat bagi manusia. Allah memerintahkan kita shalat, puasa, menolong orang lain, berbuat jujur, menjaga kebersihan jasmani dan ruhani, dan perintah-perintah yang lain karena semua itu dibutuhkan manusia. Semua yang diperintahkan adalah membawa kebaikan, keselamatan, keberuntungan, dan kebahagiaan. Demikian juga larangan-Nya, semata-mata untuk mencegah kita dari kehancuran. Allah melarang kita mendekati zina, berjudi, minum khamr, melakukan korupsi, dan larangan-larangan yang lain karena semua itu akan membawa kehancuran bagi kehidupan manusia.

 

By Ahmad Turmudi, S.Ag
Guru Tafsir Ilmu Tafsir  MA. Al-Hidayah
Dikutip dari Buku Tafsir Ilmu Tafsir kelas 11 Kurikulum 13 tahun 2015 dengan berbagai perubahan