Selasa, 26 Januari 2021

KEPEMIMPINAN QS. AN-NISA 144

 




KEPEMIMPINAN

MEMAHAMI KANDUNGAN SURAT AN-NISA’ : 144

 

Q.S. AN-NISA’ 144

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْكٰفِرِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ اَتُرِيْدُوْنَ اَنْ تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ عَلَيْكُمْ سُلْطٰنًا مُّبِيْنًا ﴿النساء : ۱۴۴

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukummu)? (QS. An-Nisa': 144)

 

Kosa kata

يٰٓاَيُّهَا

Wahai

الْمُؤْمِنِيْنَ

Orang-orang beiman

الَّذِيْنَ

Orang-orang

اَتُرِيْدُوْنَ

Apakah kalian ingin

اٰمَنُوْا

Mereka beriman

اَنْ تَجْعَلُوْا

Kalian membuat

لَا تَتَّخِذُوا

Jangan kalian jadikan

لِلّٰهِ

Bagi Allah

الْكٰفِرِيْنَ

Orang-orang kafir

عَلَيْكُمْ

Atas kalian

اَوْلِيَاۤءَ

Para pemimpin

سُلْطٰنًا

Alasan

مِنْ دُوْنِ

Dari selain

مُّبِيْنًا

Jelas


Makna Kosa kata

1). Kata (الْكٰفِرِيْنَ ), orang-orang yang mantap kekafiranya,  terambil dari kata  ( كفر) kafara yang pada mulanya berarti menutup. Al Qur›an menggunakan kata tersebut untuk berbagai makna yang masing-masing dapat dipahami sesuai dengan kalimat dan konteksnya. Konteks ayat ini adalah larangan menjadikanorang yang mantap dalam kekafiranya sebagai wali / penolong dan atau pemimpin, karena boleh jadi ia mendustakan ajaran islam atau bahkan menjadi musuh islam.

2). Kata (اَوْلِيَاۤءَ ) adalah bentuk jamak dari kata Wali yang berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung atau penolong.

3). Penggunaan kata (اَتُرِيْدُوْنَ ), aturiduna/maukah kamu pada firman-Nya: Maukah  kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah. Redaksi demikian yang dipilih bukan kata apakah kamu menjadikan, untuk menekankan betapa hal tersebut sangat buruk. Baru pada tingkat mau saja mereka telah dikecam, apalagi jika benar-benar telah dilaksanakan.

 

Mari Memahami QS. An-Nisâ’: 144

Dalam kaitan dengan ayat 144 surat An Nisa’ ini, fokus pembahasan adalah larangan terhadap orang kafir sebagai pemimpin umat Islam jika masih ada darimuslim yang dapat dijadikan pemimpin. Ayat ini merupakan kecaman keras bagiyang menjadikan orang-orang kafir teman-teman akrab, tempat menyimpan rahasiadan termasuk mengangkat mereka menjadi pemimpinnya orang-orang beriman.Sesungguhnya agama Islam tidak melarang dalam bergaul secara harmonis dan wajar atau bahkan memberi bantuan kemanusiaan terhadap orang kafir.

Allahmembolehkan kaum muslimin bersedekah untuk non muslim dan menjanjikan ganjaran untuk yang bersedekah sebagaimana penjelasan QS. Al-Baqarah: 272

 

Menurut Al Raghib Al-Ishfahaniy, kafir yang terbesar adalah kekafiran dengan tidak mempercayai keesaan Tuhan, syariat dan kenabian para rasul-Nya.  Selain kekafiran tersebut Al Qur’an juga menggunakan beberapa  istilah yang dapat dikategorikan sebagai bentuk kekafiran, diantaranya

1. mengingkari keesaan Allah dan kerasulan Nabi SAW. (QS. Saba’ (34):3)

 

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَا تَأْتِينَا ٱلسَّاعَةُ ۖ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ ۖ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَآ أَصْغَرُ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكْبَرُ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

 

Terjemah: Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami". Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)",

2. tidak mensyukuri nikmat Allah, seperti Q.S Ibrahim ayat : 7

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Tarjamah : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

 

3. tidak mengamalkan tuntunan Allah walau mempercayainya, QS. Al Baqarah (2): 85

ثُمَّ أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِنْ يَأْتُوكُمْ أُسَارَىٰ تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ ۚ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Tarjamah  Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.

Edited by :

Ahmad Turmudi Zhein

Senin, 25 Januari 2021

PENGERTIAN NASIKH MANSUKH

 


PENGERTIAN NASIKH DAN MANSUKH

1. Pengertian Naskh secara etimologi (bahasa).

Naskh adalah ism fa’il (bentuk subyek) dari kata kerja nasakha dan maṣdar-nya adalah naskh Terdapat beberapa arti kata naskh, diantaranya adalah

 a. Al-izalah (( الإزالة  artinya “menghapus”

Dalam al-Qur`an disebutkan:

 فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Artinya: “Allah (menghapus) menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat- Nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Ḥajj : 52)

b. At-Tabdil ( التبديل  ) artinya “menukar”.

Sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Naḥl ayat 101:

 وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَكَانَ آيَةٍ ۙ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مُفْتَرٍ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: "Dan apabila kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. bahkan kebanyakan mereka tiada Mengetahui."

c. At-Taḥwīl ( التحويل ) artinya “mengubah”,

d. Al-Naql ( النقل ) artinya “memindahkan”

2.  Pengertian Naskh secara terminologi (istilah)

Secara terminologi Nasikh adalah mengangkat (menghapuskan) dalil hukum syar‘i dengan dalil hukum syar’i yang lain. Nasikh adalah dalil syara’ yang menghapus suatu hukum, dan Mansukh ialah hukum syara’ yang telah dihapus. Sebagaimana hadis Nabi:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا

Artinya: Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah. (HR. atTirmidzi) 

Hukum syara’ larangan ziarah kubur kini telah Mansukh (telah dihapus) dengan kebolehan berziarah kubur, berdasarkan hadis tersebut.

3.  Macam-macam Naskh

Karena sumber atau dalil-dalil syara’ ada dua yaitu al-Qur`an dan Sunnah NabiMuhammad Saw.., maka ada empat jenis Nasikh, yaitu:

 a. Naskh sunnah dengan sunnah

Suatu hukum yang dasarnya sunnah kemudian di-Naskh dengan dalil syara’ dari sunnah juga. Contohnya: larangan ziarah kubur yang di-Naskh menjadi boleh, seperti pada hadis.

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا

Artinya: Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah. (HR. atTirmidzi)


b.  Naskh sunnah dengan al-Qur`an

    Suatu hukum yang telah ditetapkan dengan dalil sunnah kemudian di-Naskh atau dihapus dengan dalil al-Qur`an, seperti ayat tentang alat yang semula menghadap Baitul Maqdis diganti dengan menghadap ke Kiblat setelah turun QS. al-Baqarah [2] ayat 144:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

 Artinya: Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan

c.  Naskh al-Qur`an dengan al-Qur`an

    Ada beberapa pendapat ulama tentang Naskh al-Qur`an dengan al-Qur`an ada yang mengatakan tidak ada Nasikh dan Mansukh dalam ayat-ayat al-Qur`an karena tidak ada yang batil dari al-Qur`an, diantaranya adalah Abu Muslim al-Isfahani, berdasarkan firman Allah:

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Artinya: yang tidak datang kepadanya al-Qur`an kebatilan baik dari depan maupun daribelakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (QS. Fuẓẓilat [41]: 42 )

Pendapat kedua mengatakan bahwa ada Naskh Mansukh dalam ayat-ayat al- Qur`an tetapi bukan menghapus atau membatalkan hukum, yang berarti hanya merubah atau mengganti dan keduanya masih berlaku. Contoh QS. al-Anfal ayat 65

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ

Artinya :Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti ( QS. al-Anfal ayat 65 )

yang menjelaskan satu orang muslim harus bisa menghadapi 10 orang kafir, di-naskh dengan ayat 66

الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا ۚ فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya : Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar

hal  menjelaskan bahwa satu orang muslim harus dapat menghadapi dua orang kafir. Ayat 66 me-naskh ayat sebelumnya akan tetapi bukan menghapus kandungan ayat 65. Kedua ayat ini masih berlaku menyesuaikan dengan kondisi dan situasi. Demikian menurut beberapa ulama.

d.  Naskh al-Qur`an dengan sunnah

Hukum yang didasarkan pada dalil al-Qur`an di-Naskh dengan dalil sunnah. Untukhal ini para ulama sepakat tidak ada karena al-Qur`an posisinya lebih tinggi dari sunnah.


Edited by:

Ahmad Turmudi Zhein


Kamis, 21 Januari 2021

HIWAR IDHUL ADHA

 





HARI RAYA QURBAN

Dua orang teman yakni Ahmad dan Umar sedang bercakap-cakap tentang Hari raya Qurban

Ahmad

: Apakah kamu akan pulang ke desamu di hari raya Qurban, hai saudaraku ?

Umar

: iya, aku akan tinggal disana lima hari , atas izin Allah

Ahmad

: Kapan kamu pulang ?

Umar

: Dua hari sebelum Hari raya Qurban

Ahmad

: Apakah kamu akan menyembelih / berkorban seekor sapi ?

Umar

: Ya, Aku akan menyembelih sapi untuk tujuh orang, dan kamu ahai saudaraku ?

Ahmad

: Aku akan berkorban domba

Umar

: Apakah kamu akan memakan seluruhnya ?

Ahmad

: Tidak, tapi aku akan bagikan sejumlah besar dagingnya untuk kaum fakir.

Umar

  Dan kamu, apakah akan pulang ke desamu juga ?

Ahmad

: Tidak, Aku akan tinggal di surabaya, karena pamanku akan pulang haji dari makkah.

 

  Dan aku akan menyambutnya di bandara internasional Juanda Surabaya atas izin Allah

 

  Dan teman-temanku akan mengunjunginya juga

Umar

: Setiap tahun semoga kamu semua senantiasa dalam kebaikan

Ahmad

: Semoga kamu dalam keselamatan dan kesehatan juga




Catatan :
Simak baik-baik ada perubahan dalam baris dan pelaku percakapan , anak-anak mohon merubahya sesuai dengan kutipan diatas.
Terimakasih

Edited by, Ahmad Turmudi zhein

Sealamat Belajar
JUST STAY AT HOME & KEEP A HEALTY

Rabu, 20 Januari 2021

PERADABAN ISLAM MASA LALU DAN SEKARANG

  

MATERI QIROAH BAHASA ARAB

KELAS XII - MADRASAH ALIYAH

الحضارة الإسلامية بين الأمس واليوم

PERADABAN ISLAM DIMASA LALU DAN SEKARANG

أَنْرَلَ اللهُ الْقُرْآنَ  عَلَى رَسُوْلِهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُدًى لِلنَّاسِ جَمِيْعًا, فَاحْتَاجَ الْمُسْلِمُوْنَ إِلَى قِراءَةَ هَذَا الْكِتَابِ الْكَرِيْمِ وَفَهْمِ مَعَانِيْهِ, فَظَهَرَتْ عُلوْمُ الْقِرَاءَاتِ وَعُلُوْمُ التَّفْسِيْرِ وَعُلُوْمُ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّىةِ.

 

Allah telah menurunkan Al-Quran kepada Rasul-Nya Sayyidinaa Wa Maulaanaa Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi seluruh manusia, kemudian kaum muslimin membutuhkan  untuk membaca kitab yang mulia ini (Al-Quran) dan memahami makna-maknanya, maka lahirlah ilmu qiroat (ilmu membaca Al-Quran), ilmu tafsir dan ilmu bahasa Arab.

 

وَاحْتَاجَ الْمُسْلِمُوْنَ أَيْضًا إِلَى أَنْ يَفْهَمُوا الشَّرِيْعَةَ, فَظَهَرَتْ عُلُوْمُ أُصُوْلِ الْفِقْهِ وَالْفِقْهِ وَقَضْ فَرَضَ الْقُرْآنُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ أَنْ يَتَفَكَّرُوْا فِى أَحْوَالِ الْكَوْنِ, وَبِهَذَا اهْتَمَّ الْمُسْلِمُوْنَ بِالْعُلُوْمِ التَّجْرِيْبِيَّةِ فَظَهَرَتْ عُلُوْمُ الْكِيْمِيَاءِ وَالْفِيْزِيَاءِ وَالطِّبِّ وَالْبِيُوْلُوْجِيَ ومَا أَشْبَهَ ذَلِكَ مِنَ الْعُلُوْمِ الطِّبِّيَّةِ.

Dan kaum muslimin juga membutuhkan  untuk memahami syariat (agama), maka lahirlah ilmu ushul fiqih dan ilmu fiqih, dan sungguh Al-Quran telah mewajibkan kaum muslimin untuk memikirkan tentang keadan-keadaan alam, maka dengan ini, umat islam memperhatikan ilmu-ilmu eksperimen maka lahirlah ilmu kimia, fisika, kedokteran, biologi dan serupa itu semua dari ilmu-ilmu kedokteran.

وَظَهَرَ الْمَنْهَجَ التَّجْرِيْبِيُّ أَوَّلَ مَرَّةٍ فِى تَارِيْخِ الْحَضَارَةِ الْبَشَرِيَّةِ عَلَى عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ. وَاعْتُبَرَ جَابِر بْنُ الْحَيَّان مِنَ الْأَوَائِلِ الَّذِيْنَ أَدْخَلُوْا هَذَا الْمَنْهَجَ فِى أَبْحَاثْهِمْ. وَكَانَ جَابِر أَعْظَمَ الْكِيْمِيَائِّيِّيْنَ, وَمِنْ مُصَنَّفَاتِهِ فِى الْكِيْمِيَاءِ كَتَابُ الْخَوَّصِّ وَكِتْابُ السَّبْعِيْنَ, وَكُتُبٌ أُخْرَى مَشْهُوْرَةٌ, وَهُوَ يْعَمَلُ صَيْدَلَانِيًّا فِى الْكُوْفَةِ.

Telah lahir metode eksperimen pada pertama kali dalam sejarah peradaban manusia di tangan para ilmuwan Islam. Jabir bin Hayyan dianggap termasuk diantara para ilmuwan yang memasukkan metode eksperimen ini dalam penelitian-penelitian mereka. Dan Jabir bin Hayyan adalah ahli kimia terbesar, diantara karangan-karangan Jabir dalam ilmu kimia adalah Kitab Al-Khowwash, Kitab As-Sab’iin dan kitab-kitab yang terkenal lainnya, dia bekerja sebagai apoteker di Kufah (Irak).

 

وَاعْتُبَرَ ابْنُ الْهَيْثَمِ مِنَ الرُّوَّادِ الَّذِيْنَ أَسَّسُوا الْمَنْهَجَ التَّجْرِيْبِيِّ فِي عِلْمِ الْفِيْزِيَاءِ, فَهُوَ مُنْشِئُ عِلْمِ الضَّوْءِ.

Ibnu Haitsam dianggap termasuk diantara para pelopor yang meletakkan dasa-dasar metode eksperimen dalam ilmu fisika, dia adalah orang yang menumbukan ilmu cahaya.

وَاشْهَرَ الْبَيْرُوْنِيُّ بِقِيَاسِ مَسَافَةِ الْأَرْضِ, وَبَيَانِ كُسُوْفَ الشَّمْسِ, وَنَاقَشَ الْأَدِلَّةَ عَلَى كُرَوِيَةِ الْأَرْضِ وَدَوَرَانِهَا عَلَى 
مَحْوَرِهَا وَحَوْلَ الشَّمْسِ, وَابْتَكَرَ مِرْصَادًا لَرَصْدِ الْكَوَاكِبِ وَالنُّجُوْمِ.

Al-Bairuni telah terkenal dengan analogi jarak bumi, penjelasan gerhana marahari, mendebatkan dalil-dalil tentang bulatnya bumi dan berputarnya bumi pada porosnya (rotasi) dan berputarnya bumi di sekeliling matahari (revolusi), dan Al-Bairuni menciptakan teropong untuk meneropong planet-planet dan bintang-bintang.

وَكَانَ ابْنُ سِيْنَا أَوَّلَ مَنِ اسْتَعْمَلَ التَّحْدِيْرَ فِى الْجَرَاحَةِ.

Ibnu Sina adalah orang pertama yang menngunakan obat bius dalam pembedahan (operasi).

وَكَانَ ابْنُ النَّفَيْسِ أَوَّلَ مَنِ اكْتَشَفَ الدَّوْرَةَ الدَّمَوِيَّةَ وَبَيَّنَ حَرَكَةَ الدَّوْرَةَ الدَّمَوِيَّةَ فِى الرِّئَتَيْنِ وَفِى الْجِسْمِ, وَاشْهَهَرَ كَذَلِكَ بَتَشْرِيْحِ الْجِسْمِ, وَهُوَ أَسَاسُ عِلْمِ التَّشْرِيْحِ.

Ibnu Nafis adalah orang pertama yang menyingkap perdaran adarah darah menjelaskan bergeraknya peredaran darah dalam limfa dan dalam tubuh, dan karena itulah ia terkenal dengan anatomi tubuh, dan ia adalah dasar ilmu anatomi.

وَسَبَقَ كَذَلِكَ عُلَمَاءُ الْإِسْلَامِ فِى الرِّيَاضِيَّاتِ, مِنْهُمْ ابْنُ جَابِر الْبَتَّانِيُّ وَمُوْسَى ابْنُ شَاكِرٍ وَالْبَيْرُوْنِيُّ.

Begitu juga para imuwan Islam telah maju mendahului dalam matematika, diantara ilmuwan Islam yang maju dalam matematika adalah Ibnu Jabir Al-Battani, Musa bin Syakir dan Al-Bairuni.

هَكَذَا كَانَ الْإِسْلَامُ مِنْ أَقْوَى الْعَوَامِلِ عَلَى تَقَدُّمِ الْحَضَارَةِ فِى مِيْدَانِ الْعُلُوْمِ الْمُخْتَلِفَةِ. وَ هَكَذَا تَقَدَّمَتِ الْحَضَارَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ , فِى الْوَقْتِ الَّذِى كَانَتْ أُوْرُبَّا فِى ظَلَامِ الْجَهْلِ, فِى الْوَقْتِ الَّذِى يُسَمَّى بِالْقُرُوْنِ الْوُسْطَى.

Demikianlah, Islam termasuk faktor paling kuat terhadap kemajuan peradaban dalam medan ilmu yang berbeda-beda. Dan demikianlah peradaban islam telah maju pada waktu Eropa dalam gelapnya kebodohan, pada waktu yang disebut dengan ‘Abad pertengahan’.

والْيَوْمَ نُشَاهِدُ كَثِيْرًا مَنَ الدُّوَلِ الْغَرْبِيَّةِ مِثْلُ أَمْرِيْكَا وَأَوْرُبَّا لَهَا سَيْطَرَةٌ عَظِيْمَةٌ عَلَى الدُّوَلِ الْإِسْلَامِيَّةِ وَغَيْرِهَا فِى جَمِيْعِ مَيَادِيْنِ الْحَيَاةِ الْإِقْتِصَادِيَّةِ وَالسِّيَاسِيَّةِ وَالْإِجْتِمَاعِيَّةِ, أَيْنَ نَحْنُ الْمُسْلِمُوْنَ الْيَوْمِ مِنْ هَؤُلَاءِ الْغَرْبِ.

Hari ini kita melihat banyak diantara Negara-negara barat seperti Amerika dan Eropa, mereka memiliki dominasi yang besar terhadap negara-negara Islam dan negera-negara lainnya dalam seluruh medan kehidupan ekonomi, politik, dan sosioal. Di maman kita kaum muslimin sekarang dari orang-orang barat itu؟

Buku Siswa Bahasa Arab Kelas XII Kurikulum 13, Dirjenpendis Kemenag Republik Indonesia

Edited by: Ahmad Turmudzi Zhein